Langsung ke konten utama

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar

PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung.

Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang.

Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education.

Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktivitas pertambangan dikelola dengan mengedepankan kepentingan lingkungan. Upaya ini adalah bukti komitmen RBT untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung upaya pemerintah untuk mencegah perubahan iklim.

Direktur PT RBT, Reza Andriansyah, mengatakan “Kami ingin menjadi inisiator Reklamasi Berkelanjutan dengan merevitalisasi lahan dan membuat lahan tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat.”

Sesuai dengan slogan khas Bangka Belitung, Bumi Sepintu Sedulang atau gotong royong, RBT ingin mengajak semua pelaku bisnis dan industri timah khususnya, juga komunitas lokal untuk bergabung dalam gerakan ini dan mendukung kebijakan pemerintah dalam kemandirian pangan dan energi serta kelestarian lingkungan.

Sebagai langkah awal yang diinisiasi oleh PT RBT, nantinya status lahan tersebut direncanakan akan berubah menjadi Hak Guna Usaha (HGU) Koperasi Desa, sesuai dengan himbauan pemerintah agar program reklamasi dapat berkelanjutan. Di atas lahan seluas 50 hektar di Desa Penyamun, Kabupaten Bangka akan dikembangkan oleh RBT sebagai program percobaan (pilot program) berbasis riset.

Lahan-lahan ini akan dikembangkan menjadi lahan produktif agrikultur dengan tanaman pangan bernilai ekonomis seperti jeruk kunci, padi, tomat, melon, pisang, lada, cabai, nanas, papaya, buah naga, mangga, jagung, kacang panjang, dan semangka. Hasilnya dapat diduplikasikan atau dikembangkan di tempat yang lain, serta menjadi referensi agrowisata dan eco-education yang menarik bagi masyarakat.

Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), Jabin Sufianto mengatakan, “AETI memberikan dukungan kepada Program Reklamasi Berkelanjutan RBT yang menekankan antara masa depan planet bumi, kesejahteraan manusia di dalamnya dan kontribusi bagi negara secara simultan serta memberikan manfaat bagi masyarakat setempat setelah tambang timah melewati masa produksinya. Hal ini sesuai dengan cita-cita kami mewujudkan industri timah yang mengedepankan kelestarian lingkungan, atau Green Mining.”

Program Reklamasi Berkelanjutan RBT telah sejalan dengan imbauan pemerintah bagi pelaku usaha pertambangan tentang reklamasi dan pasca tambang untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali.

"PT Refined Bangka Tin membuktikan komitmennya untuk memproduksi timah secara bertanggung jawab, dengan partisipasi berkelanjutan dalam Program Smelter Bebas Konflik (Conflict-Free Smelter Program) di tahun 2014,” kata Leah Butler dari Conflict-Free Sourcing Initiative (CSFI).

“Kami sangat gembira melihat RBT memperkuat komitmen ini melalui pengembangan pendekatan yang terukur untuk merehabilitasi tanah pasca tambang menjadi kembali produktif," lanjutnya. PT RBT berencana untuk menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

PT Refined Bangka Tin (RBT) merupakan perusahaan produsen (smelter) timah berkelanjutan pertama di Indonesia. RBT yang didirikan sejak tahun 2007 dan memiliki wilayah operasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

RBT menjadi salah satu produsen timah batangan (tin ingot) yang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas produksi hingga 2.000 ton setiap bulan. RBT dibangun dalam memenuhi peningkatan permintaan dunia untuk timah berkualitas terbaik, dengan bisnis timah terintegrasi mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, pengolahan hingga pemasaran. RBT telah menjangkau pasar-pasar besar dunia seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Spanyol, Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, dan India.

Jakarta, Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...