Oleh: Satrio Arismunandar Perempuan itu bukan aktivis top, bukan tokoh politik, apalagi tokoh ekonomi. Namun, namanya dikenal oleh para artivis buruh, yang berjuang menegakkan hak-hak buruh di era Orde Baru yang represif. Nama perempuan itu sederhana dan singkat, sesingkat kehidupannya: Marsinah. Lahir di Desa Nglundo, Sukomoro, pada 10 April 1969, Marsinah adalah buruh pabrik arloji PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Ketidakmampuan ekonomi tidak menyurutkan dirinya untuk terus belajar dan menimba ilmu. Meski terpaksa mengubur cita-citanya untuk berkuliah di IKIP (sekarang UPI), sebagai buruh pabrik, Marsinah tetap rajin membaca. Selain senang membaca, Marsinah membekali diri dengan mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris. Ia percaya, pengetahuan dapat mengubah kehidupan seseorang. Marsinah juga rajin mengkliping koran yang menjadi koleksinya tersendiri. Marsinah punya sifat pemberani dan setia kawan. Hal itu ditunjukkan dengan selalu membela buruh lain yang...