Langsung ke konten utama

TENTANG TEKNIK PENULISAN OLEH KONTRIBUTOR DAN KORESPONDEN NEWS TRANS TV, YANG MASIH PERLU DIBENAHI

Oleh Satrio Arismunandar

Saya mendapat masukan dari sejumlah producer dan asprod Reportase, tentang cara penulisan berita oleh beberapa koresponden/kontributor yang dianggap masih bermasalah. Misalnya: naskah yang logika content-nya kurang jelas, strukturnya agak kacau (tidak jelas antara korban atau saksi), kurang akurat dalam fakta, dsb.

Hal ini telah meningkatkan beban kerja producer/asprod, karena suatu naskah harus dibongkar habis-habisan, atau asprod harus bolak-balik menelepon keresponden/kontributor untuk menjelaskan/mengkonfirmasikan hal-hal tertentu yang tidak jelas pada naskah bersangkutan. Kondisi ini tentu juga merugikan (kurang efisien) dari segi waktu dan biaya.

Tentu tidak semua koresponden/kontributor begitu. Ada juga yang sudah baik dalam penulisan naskahnya. Hal ini juga diakui oleh para producer/asprod sebagai user, yang tiap hari harus berurusan dengan naskah-naskah dari daerah.

Namun, untuk perbaikan dan penyempurnaan, saya mengusulkan, para produser/asprod memberi masukan singkat tentang siapa saja koresponden/kontributor yang sudah baik naskahnya, siapa yang sudah cukup memenuhi standar, dan siapa pula yang masih butuh pembinaan dan pembenahan. Karena masukan ini disarikan dari seluruh producer/asprod Reportase, diharapkan tentunya masukan kolektif itu akan cukup obyektif dan mengurangi unsur subyektivitas.

Buat rekan-rekan koresponden/kontributor, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena tujuan masukan ini adalah kebaikan kita bersama dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan program Reportase khususnya dan Divisi News umumnya. Kepada rekan-rekan yang dinilai masih perlu pembenahan, mungkin saja diberikan training penulisan naskah untuk menyegarkan kembali pemahaman tentang teknik-teknik penulisan berita yang baik.

Demikian sekedar usulan dari saya.
Jakarta, Agustus 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...