Langsung ke konten utama

DILEMA SEORANG JURNALIS

Oleh Satrio Arismunandar

Saya beberapa kali sering ditanya, apa yang harus dilakukan seorang jurnalis, jika ia berhadapan dengan pilihan yang berkaitan dengan momen mati-hidup seseorang. Tetapi, di sisi lain, momen itu juga berpeluang mengangkat nama sang jurnalis untuk menjadi seorang “jurnalis besar.”

Saya ambil contoh yang ekstrem: Misalkan, Anda adalah seorang jurnalis. Suatu ketika, ada seseorang mau bunuh diri di depan Anda, dengan cara loncat dari gedung, sedangkan saat itu Anda sebagai jurnalis sedang memegang kamera yang sudah "on", siap mengambil gambar. Nah, dalam situasi itu, apa yang akan Anda lakukan?

Jawaban saya sederhana: Ada dua pilihan, masing-masing dengan konsekuensi tersendiri..

Pilihan pertama, Anda biarkan orang itu bunuh diri, dan Anda mendapat gambar eksklusif saat orang itu meloncat dari gedung, Berkat gambar luar biasa itu, Anda akan jadi jurnalis yang terkenal dan top deh, liputan Anda memecahkan rating tontonan, dan Anda akan merasa hebat dan bangga. Tapi, saat itu Anda mungkin tidak lagi layak menyebut diri "manusiawi."

Pilihan kedua: Anda berusaha menolong orang itu dan mencegahnya bunuh diri. Jika Anda memilih menolong orang itu dan batal mendapat gambar hebat, Anda mungkin tidak dipuji sebagai jurnalis pemecah rating. Anda tetap jadi jurnalis yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Tetapi Anda patut bersyukur, Anda masih tetap layak disebut sebagai manusia, karena Anda menghargai kehidupan dan nyawa manusia lain di atas ketenaran dan sukses duniawi.

Saya tak hendak mengajari Anda tentang mana pilihan yang benar dan baik. Silahkan Anda pilih sendiri....

Jakarta, 13 Oktober 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...