Langsung ke konten utama

Sinopsis Episode 14-18 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV



SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB

Episode 14


Nengsi sedih karena sampai saat ini belum juga punya pacar atau pasangan hidup. Maeng berusaha menghibur Nengsi. Nengsi agak iri pada Maeng, yang meskipun banci ternyata masih cukup menarik bagi lawan jenis.
Karena tak tahan terus-menerus digosipkan dengan lelaki lain, dan disindir dengan kalimat yang tak mengenakkan hati, Ningrum akhirnya mengajak bicara langsung dengan Tini. Ketika itu, Tini keceplosan bicara bahwa dia sebetulnya iri melihat Ningrum yang cantik dan mudah memancing perhatian lelaki. Padahal mereka berdua sama berstatus janda. Sesudah percakapan itu, Ningrum dan Tini berbaikan kembali.
Di sisi lain, Alim sedih karena kondisi istrinya Anggi, yang menderita lumpuh, belum menunjukkan tanda kepulihan. Meski Alim sudah berkonsultasi dengan dokter. Alim juga berusaha menghibur anaknya Putri.
Sementara itu, pedagang tradisional di pasar tempat Ningrum berdagang ternyata tidak kompak. Sebagian mereka dapat dikecoh untuk mendukung relokasi pasar.

Episode 15

Meski sedang sama-sama mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), perselisihan antara Nadya dan Gita –masing-masing dengan teman pendukungnya—tidak berhenti. Penyebabnya dipicu oleh kegusaran Gita, karena Damar –cowok yang ditaksirnya dan juga peserta sanlat—justru terlihat mendekati Nadya. Melihat Damar kebetulan berduaan dengan Nadya di waktu malam, Gita segera mengadukan hal itu ke Kyai dan Reyhan.
Para guru SMP mengunjungi para siswa mereka, yang sedang mengikuti sanlat di pesantren. Kepala sekolah, yang keras menolak pemakaian jilbab di sekolah, menyuruh Ibu Ida mengurus pembelian buah-buahan buat para peserta sanlat.
Sementara itu, Fahmi mencari tambahan penghasilan dengan berjualan koran bersama Adam di stasiun KA. Fahmi mengajak Adam mengunjungi Nadya ke pesantren. Karena itu, ia terlambat pulang sehingga membikin Ningrum cemas dan marah.

Episode 16

Pertemuan Nadya dan Damar di waktu malam, yang sebenarnya terjadi secara kebetulan, menjadi berbuntut panjang gara-gara diadukan oleh Gita ke otoritas pesantren. Keduanya dicurigai berpacaran, ssuatu yang dilarang keras di lingkungan pesantren, meskipun bagi peserta Pesantren Kilat (sanlat).
Nadya dan Damar terancam terkena sanksi berat. Untunglah, kyai dan nyai selaku pimpinan pesantren tidak mau bertindak gegabah. Mereka tidak mentah-mentah percaya saja pada pengaduan Gita.

Episode 17

Kehadiran Aisyah, keponakan nyai, yang suka memoret, cukup memeriahkan suasana di pesantren. Gara-gara Aisyah, sejumlah santriwati peserta Pesantren Kilat (sanlat) jadi senang bergaya di depan kamera.
Dalam kasus tuduhan berpacaran, otoritas pesantren akhirnya memutuskan, Damar dan Nadya tidak bersalah. Hal ini terjadi berkat bocoran info dari Aisyah, yang tanpa sengaja menguping ucapan Gita, bahwa Gita sebagai saksi sebenarnya memang tidak melihat hal-hal yang aneh dalam kasus Damar dan Nadya. Walaupun demikian, Damar dan Nadya tetap mendapatkan teguran dari pesantren serta sanksi. Bukan karena pacaran, tetapi karena tidak berada di kamar pada waktu yang seharusnya.
Ningrum mengunjungi pesantren untuk menjenguk Nadya. Karena merasa rikuh, ia menolak diantar oleh Alim. Di pesantren, Ningrum bertemu Ustadz Zaki, yang merasa jatuh hati melihat kecantikannya.
Pulang ke rumah, Ningrum merasa lemas dan gemetar. Ia terserang penyakit yang tak jelas. Akhirnya, Fahmi pula yang harus merawat ibunya di rumah.

Episode 18

Para pedagang tradisional kesal, karena meski sudah iuran uang untuk mengadakan demo, demo yang bertujuan memprotes rencana relokasi pedagang itu tak kunjung terwujud. Mang Usep, yang biasa mengumpulkan setoran sumbangan, jadi sasaran kekesalan. Namun, beberapa pedagang sempat terbujuk untuk mendukung percepatan relokasi, karena diiming-imingi janji mendapat lokasi yang strategis.
Meski masih merasa sakit, Ningrum memaksa diri berjualan di pasar. Akibatnya, dia malah muntah-muntah, sehingga menimbulkan kecurigaan Tini bahwa Ningrum sedang hamil.
Pak Bimo, tukang kredit yang sedang ada hati pada Ningrum, jadi kesal dan cemburu karena curiga Alim sedang mendekati Ningrum. Bimo memaksa mau menagih cicilan utang Ningrum, sehingga berkonflik dengan Alim.
Satrio, yang baru datang ke pasar untuk menjenguk kakaknya Ningrum, merasa terpukul. Satrio melihat perilaku Bimo persis seperti pencerminan dari pekerjaannya sekarang, yang juga menagih utang secara paksa terhadap orang lain. Saat itu Ningrum mendadak pingsan, sehingga segera dibawa oleh Satrio ke rumah sakit.

(BERSAMBUNG)

Satrio Arismunandar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...