Langsung ke konten utama

Menanggapi Kritik dan Masukan Terhadap Program JIKA AKU MENJADI (JAM)


Oleh Satrio Arismunandar

Belum lama ini ada tulisan yang diposting Remotivi di milis jurnalisme, berisi kritik dan masukan untuk program JIKA AKU MENJADI (JAM). Saya saat ini tak punya waktu untuk menulis panjang lebar soal JAM, untuk menanggapi tulisan yg diposting Remotivi. Sehingga saya postingkan tulisan lama saya tahun 2008, ketika saat itu saya masih merintis program JAM. JAM sekarang mungkin sudah mengalami pergeseran ketimbang versi awal 2007, tetapi semangat dasarnya tetap sama.

Konsep dasar JAM adalah Solidaritas Sosial. Penontonnya menurut konsep dasar saya (sesuai target audience Trans TV) adalah mereka yang berstatus sosial ekonomi A dan B. Jadi jelas bahwa format JAM dibuat sesuai dengan tujuan dasarnya (bagaimana membangkitkan solidaritas sosial dari audiens yang golongan mampu kepada warga golongan tidak mampu) .

Kalau ada kritik, bagaimana jika JAM ditonton oleh Pak Amat yang miskin, yang mungkin lebih miskin dari warga yang dijadikan narsum JAM, ya tentu tidak nyambung dengan konsep dan sasaran penonton tayangan ini.

Kalau dibilang, ada tujuan profit di balik JAM, ya itu sih di media TV swasta --yang hidupnya semata-mata tergantung dari iklan-- sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Kecuali jika kita bicara tentang media TV publik yang dibiayai negara semacam TVRI.

Saya sekarang 100% tidak menangani JAM lagi. Meskipun begitu, sampai saat ini selalu banyak talent atau kalangan penonton (biasanya gadis) yang mengontak saya atau mengirim email ke saya, menyatakan ingin ikut program JAM, karena ingin merasakan hikmah hidup dalam kesederhanaan. Biasanya email mereka langsung sayaforward ke producer JAM bersangkutan.

Saya kini menangani John Pantau (Minggu sore), Riwayat (sabtu pagi) dan Pengabdian (Sabtu sore). Sebelumnya saya menangani juga 2 program Ramadhan yang sudah habis masa tayangnya: TARKAM dan PINTU SURGA (dua-duanya drama).

Dan agar Anda memahami, yang saya tulis sebelum ini tentang JAM adalah jawaban tahun 2008, ketika saya masih menghandle JAM sebagai Producer dan bertanggung jawab atas seluruh tayangannya (dan konsep dasarnya yang disusun dan dibuat pilot projectnya tahun 2007).

Pernyataan Ade Armando dan Bima Marzuki di milis jurnalisme dan Naratama ada benarnya. Ketika suatu program menjadi populer, dan intensitasnya meningkat (dari tayang mingguan, lalu jadi 2 kali seminggu, 5 X seminggu, dan akhirnya tiap hari hadir di layar TV), sudah pasti akan terjadi tekanan terhadap pola produksi yang tidak bisa optimal sempurna seperti konsep awalnya. Mulai dari kesulitan memilih talent dan narsum yang tepat. Bayangkan, profesi narsum apalagi yang belum dijadikan topik JAM? (mulai dari petani, nelayan, tukang ojek, pencari keong, tukang sadap karet, dst..dst...)

Contoh lain:

Keberhasilan suatu program dan popularitas JAM justru juga punya dampak negatif dan meningkatkan taraf kesulitan bagi crew JAM yang mengeksekusi. Efek kejutan terhadap narsum, bahwa ia di akhir acara diberi kambing, atau perahu, atau yg lain, sudah berkurang. Bisa saja terjadi, si tetangga narsum tersebut (yang punya TV, meski hidup di desa) sudah pernah nonton JAM dan ia akan bilang pada si narsum (yang tidak punya TV): "Nanti kamu pasti akan diberi hadiah tertentu oleh TransTV......"

Oleh karena itu, JAM sebagai program reality show (menurut definisi Nielsen) ini mungkin kini lebih pas disebut semi-reality. Tetapi jelas ini bukan fiksi, dan ini adalah karya Divisi News (bukan Production).

Tetapi saya tetap bangga dan bahagia dengan JAM yang sudah bertahan selama 4 tahun di layar Trans TV (dan sampai sekarang ratingnya tetap baik). Menurut saya, hampir semua pihak yang terlibat "happy" dengan JAM.

Sebagai kreator: Saya senang bisa menghasilkan karya yang bertahan sampai 4 tahun, dan tetap dengan rating tinggi. Sejumlah miliser di sini boleh berkomentar apa saja. Tetapi, saya percaya, sampai tahap tertentu, program ini sudah mencapai tujuan sosialnya yang membangkitkan solidaritas sosial dari penonton (kelas A dan B) terhadap rakyat kecil. Terbukti dengan cukup banyak penonton yang atas inisiatif sendiri mengontak Trans TV, meminta alamat narasumber, untuk memberikan sumbangan bagi narsum bersangkutan.

Bahwa banyak penonton (kelas A-B) menyukai JAM, juga terbukti dengan rating yang relatif tinggi dan program bisa bertahan sampai 4 tahun saat ini. Kalau ada sebagian penonton yang tidak suka, karena dianggap JAM kurang memenuhi kapasitas intelektual, pencerahan, kritik terhadap tanggungjawab negara, atau "pencerdasan bangsa", ya silahkan saja. Toh tidak ada program yang sempurna, yang bisa memuaskan semua pihak.

Bagi crew yang meliput/mengeksekusi JAM, juga sangat menikmati dan tidak ada beban mental (sangat berbeda kasusnya, jika mereka disuruh membikin program yang mengeksploitasi seks atau kekerasan, misalnya).

Mengapa? Karena lewat liputan ini juga crew merasa ikut membantu warga miskin (narsum dan keluarganya) secara konkret. Pernahkah sebagian Anda yang di milis ini banyak berwacana intelektual tentang "eksploitasi kemiskinan", bisa merasakan kebahagiaan murni, tangisan spontan narsum, ketika secara mengejutkan di akhir liputan mendapat pemberian yang --paling tidak-- bisa membantu mengurangi beban kehidupan?

Bayangkan, seorang nelayan (buruh yang tidak punya kapal sendiri) --yang penghasilannya cuma Rp 10.000 - Rp 15.000 sehari, dan punya utang banyak di sana-sini-- di akhir acara gembira, karena diberi perahu sendiri untuk mencari ikan (meskipun itu cuma perahu bekas, bukan baru).

Saya melihat sendiri, karena ketika merintis program JAM itu di liputan nelayan miskin Indramayu, kami para crew menggunakan uang jatah kami menginap di hotel untuk urunan beli perahu. Sebagai ganti hotel, crew ramai-ramai menginap di rumah salah satu penduduk yang kami sewa sekadarnya.

Crew JAM yang sekarang sudah sangat dimudahkan, karena sekarang sudah banyak pengiklan dan banyak sponsor, yang terlibat dalam memberi sekadar penghargaan buat narasumber. Di zaman saya merintis JAM, belum ada sponsor semacam itu dan iklannya belum sebanyak sekarang. Jadi pintar-pintarnya crew, bagaimana "mengakali" anggaran yang terbatas untuk bisa memberi sekadar penghargaan (di luar honor) buat narsum.

Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, meski sudah tidak menangani JAM lagi, saya sampai hari ini tetap bangga dan bahagia dengan program JAM, dan saya berharap program ini masih akan lama mewarnai layar Trans TV.

Jakarta, September 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...