Langsung ke konten utama

Kriteria Penilaian Sebuah Karya Inovasi


Ada sejumlah kriteria untuk menilai sebuah karya inovasi. Penilaian ini dilihat dari berbagai sudut pandang. Kriteria ini saya muat di blog saya, semoga bisa berguna sebagai alat bantu bagi rekan-rekan yang terlibat dalam penelitian atau proyek-proyek yang bertujuan menghasilkan karya inovatif. Berikut kriterianya:

A. Sisi Pandang : Innovator
Semakin orisinil idenya semakin baik
Nilai:
1)Ide serupa sudah umum / sudah sering saya dengar
2)Ide serupa sudah pernah saya dengar, termasuk di sektor bisnis lain
3)Sejauh saya tahu, ini ide baru di Indonesia
4)Sejauh saya tahu, ini ide baru bahkan mungkin di seluruh di dunia

B. Sisi Pandang : Kompetitor / Pesaing
Kemudahan ditiru adalah kelemahan dalam persaingan
Nilai:
1)Secara teknis mudah ditiru, praktis tidak ada “barrier of entry”
2)Secara teknis dapat ditiru, namun perlu keahlian teknis / peralatan tertentu
3)Secara teknis tergolong sulit ditiru, termasuk bisa dilindungi paten / formula rahasia
4)Tanpa bantuan sang inovator, praktis tidak bisa ditiru.

C. Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Comfort)
Inovasi yang mudah diterima lebih baik
Nilai:
1)Saya tidak tertarik pada tawaran inovasi, apalagi beralih
2)Saya perlu diyakinkan bahwa beralih ke tawaran inovasi ini baik dan perlu
3)Saya yakin tawaran inovasi ini baik, saya menerima dan akan mencoba
4)Saya kagum dan tidak sabar untuk melihat atau mencobanya

D. Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Rational)
Inovasi yang memberikan banyak nilai tambah bagi pemakai (QCDSM), lebih baik
Nilai:
1)Saya mengenali adanya nilai tambah, kalau saya memang pemakai barang sejenis
2)Saya mengenali setidaknya melihat satu nilai tambah yang bagus
3)Saya yakin ada beberapa beberapa nilai tambah yang bagus
4)Saya yakin kebanyakan orang pasti melihat banyak nilai tambah yang bagus

E. Sisi Pandang : Business professional

Inovasi yang berpotensi luas untuk dikembangkan lagi lebih baik.
Nilai :
1)Potensi pengembangan terbatas
2)Potensi pengembangan ada namun belum nyata arahnya
3)Potensi pengembangan besar termasuk aplikasi ke sektor lainnya
4)Potensi pengembangan terbuka lebar dan 'dapat dibayangkan’

F. Sisi Pandang : Business Professional

Inovasi yang berada di (atau bisa masuk ke) growing market lebih baik
Nilai:
1)Inovasi terbatas hanya untuk aplikasi tertentu saja
2)Inovasi tidak meningkatkan aspek aplikasi dari suatu produk/proses
3)Inovasi berpotensi merambah ke aplikasi yang lebih luas
4)Inovasi berpotensi ekspansi ke berbagai aplikasi / segmen pasar yang sangat luas

G. Sisi Pandang : Investor
Inovasi yang resiko bisnisnya banyak (investment, patents, etc) semakin kurang bernilai
Nilai:
1)Peluang gagal dikhawatirkan sangat tinggi, salah satunya dikarenakan banyak ketidak-pastian.
2)Peluang gagal masih agak tinggi, beberapa key success factors belum jelas
3)Secara umum resiko bisnis dan prospek bisnis sudah 'calculated‘
4)Inovasi 'blue-chips', peluang bisnis bernilai

H. Sisi Pandang : Investor
Fase inovasi yang semakin matang menuju aplikasi / pasar semakin rendah resikonya
Nilai:
1)Masih banyak ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan
2)Ada beberapa ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan
3)Ketidak-pastian utama sudah terpecahkan, potensi sukses sudah dekat
4)Inovasi 'blue-chips' / unggulan, sudah nampak berpotensi besar

Jakarta, 2010
Dikutip dari http://www.bic.web.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...