Langsung ke konten utama

Mengumpulkan Serpihan yang Berserak dari Elektro'80 FTUI



Tak terasa, tiga puluh tahun sudah berlalu, sejak saat aku dan teman-teman diterima kuliah di Jurusan Elektro FTUI tahun 1980 sampai saat aku menulis essay pendek ini, Juli 2010. Ada sejumlah kenangan berkesan yang kuperoleh dari pengalaman kuliah bersama teman-teman seangkatan di E’80. Mulai dari kenangan yang manis, yang mengharukan, yang kocak, dan macam-macam lagi, yang tak bisa disebutkan satu-persatu.

Aku yakin, semua mahasiswa E’80 juga punya pengalaman dan kesan sendiri-sendiri tentang masa itu. Sehingga rasanya jadi kurang adil, jika aku asyik menulis tentang pengalamanku sendiri yang bisa sangat subyektif dan personal, padahal aku diminta panitia untuk menulis tentang E’80 keseluruhan. Jadi, untuk tugas itu akan kucoba sebisanya mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan, yang sebagian sudah tergerus oleh waktu.

Dari 60-an mahasiswa angkatan kami yang diterima di E’80, ceweknya ada lima. Memang sangat tidak proporsional dibandingkan jumlah cowoknya yang lebih dari 50 orang. Namun komposisi E’80 masih lebih mendingan dibandingkan Jurusan Mesin ’80, yang seingatku cuma ada tiga cewek.

Saat essay ini ditulis, dua dari anggota E’80 sudah meninggal dunia, yaitu rekan Maxim Gorky Siahaan dan Widati A. Wresniwati (Hanny). Rekan Maxim meninggal karena sakit. Sedangkan Hanny meninggal karena kanker pada 15 Maret 2009.

Dari sejak masa kuliah, sudah kelihatan bahwa mahasiswa E’80 itu memang berasal dari latar belakang yang beragam, dan kiprah mereka ketika kuliah juga beragam. Ada yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari IME (Ikatan Mahasiswa Elektro), BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), SM (Senat Mahasiaswa), hingga KAPA (Kamuka Parwata) FTUI.

Ada yang fokus pada kuliah saja, tidak ikut kegiatan yang macam-macam. Ada juga yang sudah aktif berbisnis atau menyambi kerja di tempat lain sambil kuliah. Aku sendiri awalnya tak punya kerja sambilan apa-apa, kecuali menulis artikel, puisi, dan cerita pendek untuk ditawarkan ke media. Aku juga sempat menggantikan rekan Ajisman, yang mengajar matematika di sebuah SMA swasta. Akhirnya, aku jadi wartawan di Harian Pelita (yang kebetulan saat itu dipimpin lulusan Elektro FTUI, Ir. Akbar Tandjung) sambil terus kuliah.

Saat kami diterima masuk ke FTUI, waktu itu organisasi kemahasiswaan di UI masih cukup ramai diwarnai aktivitas politik, dengan adanya lembaga seperti IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa), DM (Dewan Mahasiswa), dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) UI. Masa inisiasi mahasiswa baru dilakukan oleh lembaga-lembaga ini lewat Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Kini, sesudah 30 tahun lewat, dari jajaran lulusan E’80 yang tersisa, masing-masing sudah berkiprah di berbagai bidang yang sudah melampaui batas-batas disiplin ilmu elektro. Ada yang menggeluti bisnis konstruksi, konsultan, perbankan, restoran, media, dan politik. Tentunya juga cukup banyak yang masih setia menekuni karir teknik keelektroan, baik di lingkungan swasta maupun BUMN, seperti di PLN.

Apapun aktivitas kami yang begitu beragam tersebut, kini momen reuni 30 tahun diharapkan bisa menjadi perekat dari berbagai elemen E’80, yang sudah berserak dan terpencar ke mana-mana. Sesudah perjalanan waktu yang cukup panjang ini, muncul gagasan bahwa jajaran E’80 sudah saatnya berkumpul kembali dan bersinergi, untuk memberikan sumbangan atau kontribusinya bagi kemajuan dan kebaikan bangsa.

Dalam konteks itu, berbagai perbedaan latar belakang tersebut tidak boleh menjadi penghambat. Tetapi, ia seharusnya justru menjadi aset yang bisa didayagunakan, untuk tujuan-tujuan kebaikan yang lebih luas di masyarakat kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan lewat kebersamaan.

Semoga reuni E’80 dan reuni FTUI pada 1 Agustus 2010 ini tidak berhenti jadi sekedar pesta kangen-kangenan dan pertemuan kembali teman-teman lama. Tetapi, ia diharapkan juga menjadi langkah pertama dalam perjalanan panjang dan berkelanjutan, untuk mewujudkan kiprah terbaik kita demi kemajuan nusa dan bangsa. Semoga!

Jakarta, 12 Juli 2010

Satrio Arismunandar
048003051B – E’80 FTUI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...