Langsung ke konten utama

CHE GUEVARA - Saksikan Riwayat, Trans TV, Sabtu (12 November 2011), Pkl. 7.00



ERNESTO CHE GUEVARA – Ikon Revolusioner Bangsa Tertindas
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 12 November 2011, pukul 7.00 WIB

Sebuah pertemuan bersejarah terjadi di Havana, Kuba, 13 Mei 1960. Yakni, pertemuan antara para revolusioner masyhur, Presiden Soekarno dengan Fidel Castro serta Ernesto Che Guevara. Yang istimewa, ini adalah kunjungan kepala negara asing pertama di Kuba, setelah tumbangnya rezim Batista. Bung Karno pun meresmiklan hubungan diplomatik antara kedua negara.

Sebelum Bung Karno ke Kuba, “Che” –begitu panggilan akrab untuk Che Guevara—telah diutus Castro untuk menemui Bung Karno di Indonesia. “Che” merupakan sapaan akrab untuk orang Argentina, yang artinya “sobat” atau “teman.” Sapaan ini populer sejak ia bergabung dalam perjuangan revolusi Kuba. Di tengah kunjungannya ke Indonesia itu, Che sempat mengunjungi Candi Borobudur, tahun 1959.

Saat itu Che baru menginjak usia 33 tahun. Namun di usia belia, ia sudah memperoleh peran sentral di Kuba. Che adalah orang muda dengan beragam peran, bukan hanya dalam memori sejarah Kuba, tetapi juga Amerika Latin, bahkan dunia. Figurnya sudah menjadi ikon perjuangan bangsa-bangsa tertindas dunia dalam melawan kapitalisme dan penjajahan.

Che lahir pada 14 juni 1928 di kota Rosario, Argentina, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia De La Serna. Anak pertama dari lima bersaudara ini lahir dari kerluarga kelas menengah, yang berkecukupan secara ekonomi. Di usia 19 tahun, Che menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires.

Di pertengahan masa studinya, Che berkeliling Amerika Latin dengan mengendarai sepeda motor tua bersama sahabatnya Alberto Granado. Keputusan, yang didorong rasa ingin tahu lebih mendalam tentang kehidupan, inilah yang kemudian mengubah sejarah Che. Perjalanan sejauh 8.000 km selama hampir 10 bulan itu melintasi wilayah Argentina, Cile, Kolombia, hingga Venezuela. Kelak catatan harian Che tentang perjalanannya ini dibukukan, dan dikenal sebagai ”The Motorcycle Diaries.”

Perjalanan ini merupakan perjalanan penemuan diri Che untuk memahami Amerika Latin. Ia kagum dan getir melihat penderitaan rakyat yang ditemuinya selama perjalanan. Ia tergetar melihat ketidakadilan yang diderita orang miskin. Ia juga melihat dominasi perusahaan Amerika Serikat di tengah penderitaan buruh tambang di Cile. Pandangan hidup Che pun berubah. Anak dari kelas menengah ini berpaling menjadi pejuang untuk rakyat kelas bawah.

Terlalu banyak kisah yang bisa disampaikan tentang Che, mulai dari cerita perjuangan, kemenangan menggulingkan rezim Batista di Kuba, pilihannya untuk mundur dari pemerintahan, dan sampai kematiannya ketika membantu sebuah gerakan revolusioner secara pribadi.

Che adalah figur yang unik, berani, dan inspiratif. Ia orang yang berani melakukan ”bunuh diri kelas,” yakni melepaskan kenikmatan hidup sebagai kelas menengah demi sebuah idealisme membela masyarakat kelas bawah.

Di tengah krisis kapitalisme dunia sekarang, bangkitnya perlawanan rakyat di berbagai negara melawan rezim korup-kapitalis, serta kehausan kita pada hadirnya sosok-sosok idealis yang betul-betul mau berjuang demi kepentingan rakyat, maka figur semacam Che diharapkan bisa mengisi kekosongan. Che sangat layak diprofilkan untuk program Riwayat di Trans TV.

Jakarta, 11 November 2011

Satrio Arismunandar
HP: 081908199163

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...