Langsung ke konten utama

Essay - SALAH SATU KAKI WARTAWAN BERADA DI NERAKA


Oleh Satrio Arismunandar


Ini cerita tentang ibunda dari rekan saya, Fauzan Mukrim (Ochan), wartawan Trans TV, penulis cerpen, yang juga alumnus Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin Makassar. Ketika Ochan memutuskan ingin masuk jurusan komunikasi (jurnalistik), yang berimplikasi bahwa Ochan akan menjadi wartawan sesudah lulus nanti, ibunya tidak menyatakan setuju atau tidak setuju dengan keputusan Ochan. Tetapi ibunya hanya menyatakan, ”Salah satu kaki wartawan itu sebenarnya berada di neraka.”

Mengapa ibunda Ochan mengatakan demikian?
”Kata ibu, seorang wartawan itu jika menulis sesuatu yang tidak benar, atau tidak sesuai fakta, berpotensi menjurus ke melakukan fitnah. Sedangkan, jika dia menulis sesuatu yang benar, atau sesuai fakta, berpotensi menjurus ke ghibah,” kata Ochan.

Secara bahasa, ghibah berarti menggunjing. Pengertian lengkapnya, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang orang itu tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Cara ghibah pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok (saya kutip dari Wikipedia).

Dengan mengatakan hal itu, saya menduga, ibunda Ochan bukan berarti mau mengecilkan atau merendahkan profesi wartawan. Tetapi ia sekadar mau mengingatkan anaknya bahwa profesi wartawan itu bukanlah profesi biasa, tetapi profesi yang penuh tantangan, cobaan, dan godaan, sehingga diperlukan ikatan rambu aturan di kanan-kiri serta etika. Begitu rawannya, sehingga jika si wartawan tidak hati-hati, ia bisa tergelincir melakukan dosa. Tentu saja, semua profesi pasti memiliki tantangan, cobaan dan godaan tersendiri. Namun, profesi wartawan –seperti juga profesi hakim, jaksa, pengacara, petugas bea cukai—memang memiliki kadar godaan yang tak bisa dianggap remeh.

Menyadari hal itu, jauh-jauh hari, ketika Ochan baru memilih jurusan jurnalistik, ibundanya sudah wanti-wanti mengingatkan agar Ochan berhati-hati. Ochan beruntung memiliki orangtua yang mencintai dan sangat memperhatikan kebaikan masa depannya. Semoga kita semua, para jurnalis dan praktisi media, juga dianugerahi sikap hati-hati yang sama. ***

Jakarta, 4 November 2011

HP Satrio : 081908199163

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...