Apakah ICT akan Menggantikan Guru?
Jawabannya adalah tegas: TIDAK! Faktanya, dengan pengenalan ICT di ruang kelas, peran guru dalam proses pembelajaran bahkan menjadi lebih dipentingkan. Yang dapat dan seharusnya berubah adalah jenis peran yang dimainkan guru. Peran siswa pada gilirannya juga berkembang.
Karena ICT dapat membuka ruang kelas ke dunia luar, komunitas juga dapat memainkan peran baru di ruang kelas. Manakala pembelajaran bergeser dari “model yang berpusat ke guru” menjadi “model yang berpusat ke peserta didik,” guru tidak lagi menjadi satu-satunya suara yang memiliki otoritas dan lebih bersifat sebagai fasilitator, mentor dan pembimbing (coach) – dari “orang bijak di panggung” menjadi “pemandu di samping.”
Tugas utama guru menjadi untuk mengajari siswa bagaimana mengajukan pertanyaan dan memposisikan problem, merumuskan hipotesis, melacak informasi, dan lalu secara kritis menilai informasi yang ditemukan dalam hubungannya dengan problem yang dihadapi. Dan mengingat pembelajaran yang dikembangkan dengan ICT adalah sebuah pengalaman baru, bahkan bagi si guru sendiri, maka guru menjadi pembelajar-bersama dan menemukan hal-hal baru bersama para siswanya.
Sebagai tambahan, kini tak aneh lagi melihat siswa di dalam ruang kelas yang dilengkapi ICT, mengambil peran formal dan peran informal sebagai guru bagi rekan sebaya mereka dan siswa lain yang lebih muda. Kadang-kadang bahkan terhadap guru mereka sendiri. Guru dan siswa dari sekolah-sekolah yang berbeda, pakar materi tertentu, orangtua, komunitas dan pemimpin bisnis, politisi, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan juga jadi terlibat dalam proses pembelajaran – sebagai narasumber, pengritik, mentor, dan pemandu sorak. Mereka juga merupakan publik, yang diharapkan menjadi khalayak kritis bagi karya para siswa yang disiarkan di Web (media online) atau lewat media lainnya.
Banyak guru enggan menggunakan ICT, khususnya komputer dan Internet. Hannafin dan Savenye menemukan beberapa alasan bagi keengganan ini, yaitu: rancangan perangkat lunak yang buruk, keraguan tentang keefektifan komputer dalam pengembangan hasil pembelajaran, kurangnya dukungan administratif, meningkatnya waktu dan upaya yang dibutuhkan untuk mempelajari teknologi dan bagaimana menggunakannya untuk pengajaran, serta rasa khawatir kehilangan kewenangan mereka di ruang kelas, mengingat kini proses menjadi lebih terpusat pada peserta didik.
Itu semua adalah masalah yang harus ditangani, baik oleh pendidikan guru pra-layanan (pre-service) dan program pengembangan profesi guru di dalam pelayanan (in-service), jika sekolah dan lembaga pendidikan lainnya ingin sepenuhnya mengeksploitasi komputer dan Internet sebagai alat-alat pendidikan.
Di tingkatan layanan, pengembangan profesi guru (TPD) bidang ICT, harus bersifat jangka panjang, diarahkan oleh guru, dan seluwes mungkin. Bagi banyak guru yang berkualifikasi rendah, terlalu banyak beban kerja, dan digaji terlalu murah di negara-negara berkembang, adopsi yang efektif terhadap ICT tergantung pada peluang yang terus-menerus diberikan, untuk mempelajari apa yang perlu mereka pelajari, berdasarkan pada pengalaman dan lingkungan khususnya, manakala mereka punya waktu untuk mempelajarinya.
Insentif yang terlembagakan dan dukungan bagi para guru untuk mengikuti TPD juga sangat penting. Insentif ini mungkin berbentuk promosi bagi guru yang melakukan inovasi dengan ICT di ruang kelas, bukan sekadar menggunakan ICT. Atau, bisa juga dengan memastikan bahwa para guru memiliki akses yang memadai terhadap teknologi sesudah pelatihan.
Jakarta, 20 Januari 2012
Diterjemahkan dan dikutip oleh Satrio Arismunandar dari "ICT in Education" karya Victoria L. Tinio. Tulisan itu disusun sebagai bagian dari “ICT for Development,” proyek regional yang dilakukan oleh badan PBB, UNDP (United Nations Development Programme), Bureau for Development Policy. Yakni, melalui the Asia-Pacific Development Information Programme (APDIP) yang bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN. Paper ini ditampilkan dalam acara the World Summit on the Information Society. ***


Komentar
Posting Komentar