Langsung ke konten utama

H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia

Oleh: Satrio Arismunandar

Siapa sastrawan Indonesia yang tak kenal Hans Bague Jassin? H.B. Jassin, demikian kritikus sastra asal Gorontalo ini biasa disebut, punya pengaruh yang sangat luas dalam dunia sastra Indonesia, sehingga sempat dijuluki “Paus Sastra Indonesia.”

H.B. Jassin adalah pengarang, penyunting, sekaligus kritikus sastra. Tulisan-tulisannya sering jadi referensi bagi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dan perguruan tinggi. Jassin lahir pada 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, dari keluarga Islam. Ayahnya, Bague Mantu Jassin, adalah kerani di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Ibunya bernama Habiba Jau. Setelah menamatkan Gouverments HIS Gorontalo pada 1932, Jassin melanjutkan ke HBS-B 5 tahun di Medan, dan tamat akhir 1938.

Saat itu ia sudah mulai menulis dan karya-karyanya dimuat di beberapa majalah. Setelah sempat bekerja sukarela di kantor Asisten Residen Gorontalo, ia menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana untuk bekerja di penerbitan Balai Pustaka dan pindah ke Jakarta tahun 1940. Jassin lalu menjadi redaktur dan kritikus sastra pada berbagai majalah budaya dan sastra; antara lain Pandji Poestaka, Mimbar Indonesia, Zenith, Sastra, Bahasa dan Budaya, Horison, dan lain-lain.

Mulai Agustus 1953, Jassin menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah Kesusastraan Indonesia Modern pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di samping mengajar, Jassin juga mengikuti kuliah di fakultas yang sama. Jassin meraih gelar kesarjanaannya pada 1957, dan lalu memperdalam ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat (1958-59). Januari 1961, Jassin kembali menjadi dosen luar biasa di FSUI.

Jassin adalah salah satu tokoh Manifesto Kebudayaan (Manikebu), yang ditandatangani pada 17 Agustus 1963 guna menentang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Manikebu dilarang oleh Bung Karno pada 8 Mei 1964. Dituduh sebagai anti-Soekarno, Jassin pun dipecat dari FSUI dan ini berlangsung hingga G-30-S/PKI meletus.

Setelah itu, Jassin kembali lagi ke FSUI. Sejak April 1973, ia menjadi Lektor Tetap untuk mata kuliah Sejarah Kesusastraan Indonesia Modern dan Ilmu Perbandingan Kesusastraan. Sejak Juli 1954 hingga Maret 1973, Jassin jadi pegawai Lembaga Bahasa dan Budaya (sekarang Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

Kritik sastra yang dikembangkan Jassin umumnya bersifat edukatif dan apresiatif, serta lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Pada awal periode 1970-an, beberapa sastrawan beranggapan, kritik sastra Jassin bergaya konvensional, sedangkan pada saat itu telah mulai bermunculan para sastrawan yang mengedepankan gaya eksperimental dalam karya-karya mereka.

Beberapa kiprah Jassin sempat menimbulkan kontroversi. Pada tahun 1956, ia membela penyair Chairil Anwar yang dituduh sebagai plagiat, melalui bukunya yang terkenal berjudul "Chairil Anwar Penyair Angkatan 45".

Karena pemuatan cerpen Ki Panji Kusmin “Langit Makin Mendung” di Majalah Sastra (Agustus 1968) yang dipimpinnya, Jassin diajukan ke pengadilan. Jassin menolak mengungkapkan nama asli pengarang cerpen yang isinya dianggap "menghina Tuhan" tersebut, sehingga dijatuhi hukuman dilarang menerbitkan sesuatu yang berbau sastra selama satu tahun. Pada 28 Oktober 1970, ia dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Dan hingga sekarang, hanya Jassin-lah yang tahu, siapa sebenarnya penulis di belakang nama Ki Panji Kusmin itu.

Untuk jasa-jasanya di bidang kebudayaan, Jassin menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI pada 20 Mei 1969. Tanggal 24 Agustus 1970, Gubernur DKI Ali Sadikin mengangkat Jassin sebagai anggota Akademi Jakarta yang diketuai S. Takdir Alisjahbana. Keanggotaan ini berlaku untuk seumur hidup.

Pada 26 Januari 1973, Jassin menerima Hadiah Martinus Nijhoff dari Prins Bernhard Fonds di Den Haag, Belanda. Hadiah ini diberikan untuk jasa Jassin menerjemahkan karya Multatuli, Max Havelaar (Jakarta: Djambatan 1972). Untuk menghormati jasanya di bidang sastra Indonesia, pada 14 Juni 1975 Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Jassin.

Sejak 28 Juni 1976, Jassin menjadi Ketua Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Yayasan ini mengelola Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang terletak di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Untuk jasa-jasanya di bidang kesenian dan kesusastraan, Jassin menerima Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1983.

Jassin meninggal dunia pada 11 Maret 2000 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam usia 83 tahun. Ia meninggalkan empat anaknya yaitu Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Julius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin 10 orang cucu dan 1 orang cicit. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

Jakarta, Agustus 2015

Ditulis untuk Sang Penerobos, www.Aktual.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...