Langsung ke konten utama

Abbott, Turnbull dan Islamofobia di Australia

Oleh: Satrio Arismunandar

Perdana Menteri Australia yang baru, Malcom Turnbull, diharapkan lebih progresif dan ramah terhadap komunitas Muslim Australia. Salah satu batu ujiannya adalah melawan rasisme dan Islamofobia di Australia.

Bagi komunitas Muslim di Australia, tidak ada yang perlu ditangisi dari kekalahan Tony Abbott dalam pertarungan kekuasaan di dalam Partai Liberal yang berkuasa, yang akhirnya menggeser Abbott dan menaikkan Malcolm Turnbull ke posisi Perdana Menteri. Selama dua tahun di bawah Abbott sebagai PM Australia, komunitas Muslim merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka rasakan sebagai meningkatnya Islamofobia di Australia.

Menteri Komunikasi Malcolm Turnbull terpilih memimpin Partai Liberal menggantikan Abbott pada 14 September 2015, dengan perbandingan suara 54 lawan 44. Dalam pertarungan politik itu, Julie Bishop yang semula menjabat Menteri Luar Negeri di kabinet Abbott terpilih menjadi Wakil Perdana Menteri Australia.

Turnbull, yang mantan bankir, terpilih menjadi PM Australia ke-29. Berbeda dengan Abbott yang konservatif, Turnbull dipandang sebagai sosok yang lebih revolusioner. Ia mendukung pernikahan sejenis dan berniat menggantikan sistem kepemimpinan monarki Inggris di Australia dengan Presiden Australia.

Dalam konteks Islam, Abbott sering dikritik oleh para tokoh Muslim karena komentar-komentarnya terhadap Islam. Dalam pidatonya tentang keamanan nasional pada Februari 2015, Abbot, misalnya, mengatakan bahwa komunitas Muslim belum berbuat cukup banyak untuk memerangi penyebaran ekstremisme Islam.

Muslim Jadi Kambing Hitam

“Saya sering mendengar para pemimpin Barat menjabarkan Islam sebagai sebuah agama yang damai. Saya berharap lebih banyak pemimpin Muslim mengatakan hal itu dengan lebih sering dan betul-betul serius dengan pernyataannya itu,” kata Abbott saat itu. Komentar Abbott ini jelas kurang mengenakkan bagi tokoh-tokoh Islam di Australia. Salah satu organisasi Muslim internasional menuduh Abbott menggunakan Muslim Australia sebagai kambing hitam untuk menaikkan popularitasnya.

Juru bicara Dewan Islam Victoria, Kuranda Seyit, pada 16 September 2015 mengatakan, Abbott tidak pernah secara terbuka menentang Islamofobia. "Dia justru dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok rasis di bawah bendera kebebasan berbicara," ujar Seyit.

Menurut Seyit, Abbott berfokus pada keamanan nasional sebagai salah satu proyek besar. Namun, hal tersebut seharusnya tidak mengorbankan komunitas Muslim. Ia berharap, Malcolm Turnbull bisa bersikap lebih baik, meski mungkin hal itu tidak terjadi dalam waktu cepat.

Seyit menyatakan, walaupun organisasinya menyambut baik kenaikan Turnbull menjadi PM Australia sebagai “awal yang segar,” titik ujian bagi pemimpin Liberal yang baru itu adalah bagaimana ia menanggapi rasisme dan Islamofobia di Australia. “Kami mengantisipasi bahwa ia akan mengecam keras aktivitas rasis dan mengirim pesan pada Australia bahwa sikap fanatik, tidak toleran, dan prasangka, tak punya tempat di masyarakat kita.”

Mampu Memulihkan Hubungan

Para tokoh Muslim Australia optimistis, Turnbull akan mengadopsi kebijakan yang lebih inklusif, untuk memerangi Islamofobia di negeri itu. Jamal Rifi, intelektual Muslim berpengaruh di Sydney, mengatakan, Turnbull akan mampu memulihkan hubungan antara Muslim dan masyarakat besar Australia, yang dirusak oleh pemerintah Abbott. "Turnbull melihat Muslim Australia sebagai mitra, ketika menangani masalah radikalisasi. Turnbull juga melihat Muslim Australia bukan sebagai ancaman, tapi garis pertahanan pertama,” ujar Rifi.

Sedangkan Silma Ihram dari Asosiasi Perempuan Muslim Australia mengatakan, hubungan pemerintah Abbott dengan organisasi Muslim tidak terlalu banyak. Ia berharap, Turnbull akan lebih baik dari Abbott karena berbeda dari sisi kecerdasan dan kemampuan berbicara pada banyak orang. Ihram mengaku telah menyusun surat untukTurnbull, dan memintanya sebagai PM Australia yang baru untuk meninjau kembali undang-undang antiterorisme, yang dirasa merugikan warga Muslim.

Depok, 22 September 2015

Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...