Langsung ke konten utama

Muhammad Yunus: Memberantas Kemiskinan Lewat Kredit Mikro

Oleh: Satrio Arismunandar

Salah satu masalah utama di dunia Islam adalah kemiskinan. Dalam upaya melawan kemiskinan itu, salah satu tokoh Islam di dunia modern, yang sangat besar jasanya dalam mengangkat kehidupan warga Muslim miskin ke arah yang lebih baik dan bermartabat, adalah Muhammad Yunus. Berkat dedikasinya pada kaum miskin, ia terpilih sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian (bersama dengan Grameen Bank) pada 2006.

Tokoh yang selalu berpenampilan sederhana ini lahir di Chittagong, Bengali Timur (kini Banglades) pada 28 Juni 1940. Ia adalah bankir yang mengembangkan konsep kredit mikro, yakni pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank.

Grameen Bank menyediakan kredit kecil untuk rakyat miskin yang tidak memiliki jaminan, untuk membantu klien membangun keuangan swasembada. Konsep yang diterapkan Grameen Bank adalah “melalui kredit mikro, menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah".

Di Banglades saat itu, puluhan juta rakyat miskin tinggal di pedesaan, dan sebagiannya lagi terlibat dalam berbagai sektor usaha mikro. Untuk mengangkat taraf kehidupan mereka, perlu dukungan modal. Namun bank-bank yang ada enggan memberi kredit tanpa jaminan, misalnya: tanah. Padahal, persoalan rakyat miskin justru tiadanya kemampuan menyediakan jaminan tersebut.

Maka yang terjadi adalah lingkaran setan kemiskinan: pendapatan rendah—tabungan rendah—investasi rendah—pendapatan rendah (lagi)—dan seterusnya. Ujung-ujungnya, warga yang miskin tetap miskin, bahkan bisa makin miskin jika pengeluarannya tiba-tiba membengkak karena satu dan lain hal. Misalnya: terkena bencana alam, kecelakaan, menderita sakit parah, dan sebagainya.

Maka, berkat inisiatif Yunus, pada 1976 Banglades mengembangkan konsep Grameen Bank, dengan misi melayani rakyat ”yang termiskin dari yang miskin.” Grameen dalam bahasa Bangla berarti ”desa.” Grameen memberikan kredit mikro tanpa jaminan apapun, dan mengklaim, jumlah yang membayar cicilan pinjamannya (repayment rate) mencapai 96-100 persen.

Landasan pemikiran Grameen adalah: Untuk bangkit dari kemiskinan, dan untuk melepaskan diri dari cengkeraman lintah darat dan perantara lain, para petani yang tak punya tanah perlu diberi akses kredit. Tanpa itu, mereka tak bisa diharapkan menjalankan usaha sendiri, meskipun usaha itu berskala sangat kecil.

Grameen membuktikan, memberi pinjaman pada orang miskin bukanlah hal yang tak mungkin. Sebaliknya, pinjaman itu telah memberi peluang pada para petani yang tak bertanah, untuk membeli peralatan sendiri dan berbagai sarana produksi lainnya, guna menjalankan usaha-usaha yang menghasilkan pendapatan. Pemasukan ini dapat membebaskan mereka dari lingkaran setan kemiskinan. Dengan kata lain, kepercayaan pihak bank didasarkan pada kemauan dan kapasitas para peminjam, untuk sukses dalam usaha-usaha yang dijalankannya.

Grameen memulai operasinya dengan mendirikan cabang-cabang di pedesaan. Bank cabang ini melayani 15 sampai 22 desa. Para staf bank mengunjungi desa-desa itu, untuk mendata siapa saja yang layak dan berprospek jadi peminjam, serta menjelaskan tujuan, fungsi dan cara beroperasi bank itu pada penduduk setempat.

Lalu dibentuk kelompok-kelompok, yang anggotanya terdiri dari lima calon peminjam. Pada tahap pertama, hanya dua dari lima anggota itu yang dianggap layak dan menerima kredit. Kelompok itu kemudian diamati selama sebulan, untuk melihat apakah para anggotanya mematuhi aturan bank. Jika dua peminjam pertama itu mulai membayar cicilan modal plus bunganya dalam periode enam minggu, barulah tiga anggota lain dianggap layak menerima kredit. Dengan cara ini, tanggung jawab kolektif dari kelompok itu berfungsi sebagai jaminan atas pinjaman.

Walau jumlahnya kecil, kredit itu mampu membiayai usaha-usaha mikro dari para peminjam, yang merupakan aktivitas tradisional di pedesaan. Seperti: perbaikan mesin, membeli becak, membuat gerabah, menanam sayuran, dan lain-lain. Tingkat suku bunga untuk semua pinjaman adalah 16 persen.

Mayoritas (95 persen) dari 2,3 juta peminjam Grameen pada tahun 2000, adalah kaum perempuan yang tak punya jaminan untuk meminjam dari bank konvensional. Selain memberi kredit mikro, Grameen juga menawarkan latihan keterampilan, saran-saran di bidang kesehatan dan keluarga berencana, dan lain-lain. Grameen juga melancarkan Program Telepon Desa pada 1997, yang memberi peluang usaha bagi kaum perempuan pedesaan yang menjadi operatornya.

Berbagai studi independen kemudian menunjukkan, Grameen berhasil meningkatkan taraf kehidupan rakyat di pedesaan Banglades. Tentu saja, pengalaman Banglades ini tak bisa mentah-mentah dilaksanakan begitu saja di Indonesia. Tapi semangat keberpihakan mereka pada rakyat miskin, yang diwujudkan dalam program nyata, patut dijadikan pelajaran.

Berkat perjuangan dan jasa-jasanya, Yunus telah menerima beberapa penghargaan nasional dan internasional. Ia adalah anggota Dewan Penasihat di Universitas Sains dan Teknologi Shahjalal. Sebelumnya, dia adalah profesor ekonomi di Chittagong University di mana ia mengembangkan konsep kredit mikro dan keuangan mikro.

Pada awal 2007, Yunus sempat menunjukkan minat pada peluncuran sebuah partai politik di Banglades bernama Nagorik Shakti, namun kemudian rencana itu ia batalkan. Profesor Yunus dipilih oleh Wharton School of Business untuk film dokumenter PBS, sebagai salah satu dari “25 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Bisnis dalam 25 Tahun Terakhir.” ***

Baghdad, November 2015
Ditulis untuk Rubrik Sang Penerobos di www.Aktual.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...