Langsung ke konten utama

Merancang Prajurit Infanteri Masa Depan

Oleh: Satrio Arismunandar

Seorang prajurit memasuki pasar tradisional di negara asing yang penuh sesak. Sensor-sensor yang terpasang di helm-nya secara otomatis memindai wajah-wajah orang yang ada di pasar itu, dan mengidentifikasi pemberontak. Sebuah cursor di layar peraga yang dicermatinya menandai sasaran dan mengarahkan senjata, yang bisa diatur untuk melumpuhkan atau membunuh. Satu perintah suara sederhana akan membuka kunci pelatuk, siap untuk menembak.

Ini adalah gambaran canggih tentang sosok prajurit infanteri tahun 2030, berdasarkan visi Angkatan Darat Amerika Serikat. Dengan dibantu oleh “obat-obat pintar” (smart drugs), yang ditunjang dengan anggota tubuh buatan (prosthetics), dan dilindungi oleh pakaian lapis baja berbobot ringan, prajurit infanteri masa depan ini memiliki kemampuan yang hampir mendekat manusia super. Ia juga sanggup membawa berbagai jenis persenjataan yang akan bisa membuat Iron Man iri.

Ia dipasangi sebuah exoskeleton –yang pada hakikatnya adalah sebuah cangkang eksternal a’la Storm Trooper—yang memungkinkannya mengangkat beban-beban berat. Ia mampu berlari cepat seperti juara lari Olimpiade. Ia juga sanggup berhari-hari berada di medan tempur tanpa tidur dan makan.

Lewat rekayasa genetika, ia bisa mengubah simpanan lemak di tubuhnya menjadi energi secara lebih efisien. Jika prajurit infanteri mampu dikerahkan selama berhari-hari tanpa makan, cukup mengandalkan simpanan lemak di tubuh mereka, banyak ruang kosong di ransel mereka --yang biasanya digunakan untuk ransum makanan-- dapat digunakan untuk mengusung peralatan lain.

Sistem elektronik yang diintegrasikan diperangkat luarnya memungkinkan penerjemahan bahasa secara seketika. Artinya, seorang prajurit yang ditugaskan di negara asing, langsung bisa memahami ucapan atau bahasa warga di negara bersangkutan. Perangkat itu juga melakukan identifikasi otomatik terhadap musuh potensial, dan melakukan cara pembidikan yang mirip video-game. Jika prajurit itu lelah, terlalu banyak beban kerja, atau terluka, sensor syaraf dan fisiologis secara otomatis akan mengirim pesan peringatan ke markas besar.

Konsep Kewaspadaan Situasional

Salah satu konsep yang diterapkan pada prajurit infanteri masa depan adalah kewaspadaan situasional. Ini mencakup Rifleman Radio pada setiap prajurit, layar peraga di helm, serta alat pemantau status fisiologis dan lokasi. Headgear Subsystem adalah penghubung kewaspadaan situasional dari sistem ini. Itu dimaksudkan untuk mencakup pemrosesan taktis terpadu, dengan menyediakan peta, rute, dan data dengan peraga visor emisif 180°, komunikasi nirkabel dengan bandwidth tinggi, perangkat sensor tempur mikroelektronik/optik yang memberikan kewaspadaan situasional 360°, dan pelindung senjata kecil terintegrasi.

Selain itu ada WPSM (Warfighter Physiological Status Monitor Subsystem) atau subsistem pemantau status fisiologis si prajurit, yang dimaksudkan untuk menjadi perangkat sensor medis dan fisiologis si prajurit bersangkutan di medan tempur. WPSM ini akan mengumpulkan dan memantau informasi yang berkaitan dengan tanda-tanda vital, seperti: suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, tingkatan stres dan hidrasi, status tidur, pemosisian tubuh, dan kapasitas beban kerja si prajurit. Jika dibutuhkan, WPSM dapat memberi tahu komandan dan bagian medis, jika si prajurit terluka atau mengalami kelelahan serius.

Seragam tempur yang dikenakan prajurit infanteri masa depan juga bukanlah pakaian sembarangan. Dijuluki sebagai “pusat kebertahanan hidup,” seragam ini dirancang untuk mencakup tiga lapisan. Tiga lapisan itu adalah: lapisan luar yang bersifat melindungi (Protective Layer); lapisan tengah yang berkaitan dengan penyediaan daya atau energi (Power Centric Layer), dan lapisan terakhir yang bersifat kritis bagi kelangsungan hidup (Life Critical Layer).

Sistem pendingin iklim-mikro (Microclimate Cooling System), yang dipasang pada Life Critical Layer, berupa sebuah jejaring terdiri dari tabung-tabung sempit, untuk memberikan pemanasan atau pendinginan bagi prajurit, dengan daya sampai 100 watt. Berarti seragam ini bisa membantu prajurit mengatasi cuaca ekstrem, misalnya jika bertugas di padang pasir yang sangat panas atau gunung bersalju yang sangat dingin.

Sedangkan Subsistem Daya (Power Subsystem), yang dipasang dalam Power Centric Layer, akan dipasok oleh Pusat Durasi (Duration Central). Pusat Durasi adalah sebuah turbin mikro berdaya 2 sampai 20 watt, yang mendapat tenaga dari sebuah kotak bahan bakar hidrokarbon cair. Menurut konsep Angkatan Darat AS, 10 ons bahan bakar akan memberi tenaga cukup bagi perangkat elektronik terintegrasi si prajurit infanteri sampai 6 hari. Ditambah lagi, baterai serat-nano polimerik yang menyatu di perangkat kepala dan senjata akan memberikan cadangan daya selama tiga jam.

Kekuatan Pikiran

Spesifikasi yang dituntut adalah kemampuan untuk 24 jam operasi individual otonom dan 72 jam operasi tim otonom terus-menerus, dengan densitas tinggi dan bobot/volume ringan. Juga, sumber tenaga yang andal, aman, dan bisa membangkitkan dayanya sendiri atau membangkitkan kembali (self-generating/re-generating) daya tersebut. Otonom artinya bergerak sendiri tanpa dukungan dari pasukan atau kesatuan lain.

Juga, sudah ada kemajuan dalam neuroscience, dalam hal pemetaan dan manipulasi otak manusia. Walaupun saat ini hal itu belum diterapkan, sejumlah teknologi memiliki potensi untuk aplikasi di bidang militer. Sebuah teknik manipulasi otak telah ditunjukkan, untuk meningkatkan konsentrasi dan kewaspadaan orang yang dites dengan program tersebut. Di masa depan nanti, mungkin bahkan si prajurit bisa mengendalikan senjata lewat kekuatan pikiran!

Setiap matra militer memiliki rencana masing-masing. Namun, konsep Angkatan Darat AS tentang prajurit masa depan sebagian besar meminjam dari hampir semua genre fiksi ilmiah. Dengan dinamai “Future Soldier 2030,” visi ini adalah hasil pemikiran awal Natick Soldier Systems Center di Massachusetts, sebuah organisasi Angkatan Darat AS yang bertanggung jawab untuk meneliti dan mengembangkan teknologi-teknologi baru untuk prajurit individual.

Gagasan yang menggerakkan visi ini adalah seorang “prajurit sebagai sebuah sistem.” Ini adalah semacam konsep manusia-sebagai-mesin, yang memandang prajurit sebagaimana kita memandang pesawat tempur atau tank.

Apakah visi ini bukannya punya risiko, membuat prajurit jadi terlihat seram, seperti tokoh jahat di film-film fiksi ilmiah? Pihak militer sudah menyadari potensi ini. “Kami bekerja keras untuk mengetahui, bagaimana nanti tampilan keseluruhan gabungan prajurit dengan berbagai perangkatnya tersebut,” jelas Dutch DeGay yang bekerja di Natick.

Badan lain yang bergerak di bidang riset ini adalah DARPA (Defence Advanced Research Projects Agency). Dengan anggaran hampir 2 miliar dollar AS per tahun, dibentuklah DARPA, atau badan proyek-proyek riset maju bidang pertahanan, yang berada di bawah naungan Pentagon. Badan ini didirikan pada 1958, sesudah kesuksesan misi antariksa Uni Soviet mengorbitkan astronot Yuri Gagarin. Keberhasilan Soviet menempatkan manusia pertama di luar angkasa ini menggoncangkan Amerika. DARPA bertujuan mempertahankan dominasi teknologi AS di medan tempur.

Di antara banyak proyeknya yang ambisius, DARPA menggarap exoskeleton yang akan memungkinkan prajurit lari lebih cepat dan mampu mengangkat beban-beban berat. Namun kerjanya yang paling kontroversial melibatkan modifikasi genetik. DARPA meneliti gen-gen pemicu, yang akan membuat tubuh prajurit mampu mengubah lemak menjadi energi secara lebih efisien. Bahkan dengan rekayasa genetika, prajurit infantri yang terluka bisa dengan cepat menyembuhkan dirinya, atau menumbuhkan lagi anggota tubuh yang terputus.

Beberapa teknologi yang dibutuhkan untuk menciptakan prajurit infanteri masa depan sudah dalam pengembangan. Misalnya, prototip exoskeleton. Namun, sistem tenaga yang diperluas dan berbobot ringan, yang dibutuhkan untuk mengoperasikan seluruh gawai canggih yang digunakan si prajurit, masih butuh waktu bertahun-tahun untuk diwujudkan.

Juga, ada beberapa ide provokatif di belakang rencana itu, seperti anggota tubuh buatan yang memiliki semacam syaraf (neural prosthetics) dan obat-obatan yang membantu kemampuan kognitif. Hal-hal semacam itu masih bersifat kontroversial sekarang, namun mungkin bisa ditemui di mana-mana pada 2030.

Semua sensor canggih, alat elektronik, dan sistem persenjataan itu, sebagai satu kesatuan dengan si prajurit infanteri, akan sangat berbahaya jika jatuh ke tangan musuh akibat si prajurit tertawan. Untuk menghadapi kemungkinan buruk itu, Angkatan Darat AS punya solusi lain. Jika si prajurit terbunuh, maka seluruh perangkat yang dikenakannya akan “menge-nol-kan dirinya sendiri.” Yaitu, ia diprogram untuk menghapus sistem elektroniknya sendiri, sehingga perlengkapan itu tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak musuh.

Keunggulan terhadap pasukan darat musuh akan dicapai dengan melengkapi para prajurit tempur yang berbasis di darat dengan perangkat seragam berteknologi tinggi dan perlengkapan yang terintegrasi. Semua ini akan dihubungkan dengan serangkaian sumberdaya informasi medan tempur, yang disampaikan pada si prajurit dalam waktu seketika (real-time).

Para prajurit infanteri masa depan bukan hanya menuntut versi perlengkapan (senapan, pistol, pisau, helm, pelindung lapis baja, pakaian) yang lebih dikembangkan. Namun, semua bentuk perlengkapan itu akan menjadi dimungkinkan, manakala jenis-jenis dan berbagai kombinasi baru teknologi-teknologi itu sudah layak untuk dikerahkan ke medan tempur.

Itu semua adalah bagian dari visi jangka panjang, dan salah satu aspek dari pemikiran ambisius Pentagon, tentang teknologi-teknologi yang akan mengubah cara militer bertempur. Selain itu, juga ada rencana bagi pengadaan pesawat robot canggih; rudal yang bisa melesat secepat Mach 7 (tujuh kali kecepatan suara); dan senjata laser berbasis kapal dan pesawat terbang, yang bisa menghancurkan rudal di angkasa.

Biaya Terlalu Mahal

Semua itu bukan khayalan. Banyak dari teknologi-teknologi ini masuk akal, atau sedang dalam pengembangan. Namun, tentang apakah pihak militer akan mampu membiayainya, itu adalah soal lain. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan sosok prajurit infanteri masa depan itu, dan mampukah Angkatan Darat AS mendanainya? Pihak Angkatan Darat AS tidak akan menjawab pertanyaan itu. Banyak teknologi komponen yang dibutuhkan sedang dalam pengembangan, melalui berbagai upaya riset.

Namun, Angkatan Darat AS belum betul-betul mengerahkan pendanaan untuk menciptakan sosok utuh prajurit super masa depan itu. Angkatan Darat AS pernah berusaha menciptakan perangkat luar berteknologi tinggi untuk prajurit, yang dinamai Land Warrior System. Hasilnya beragam dan biayanya mencapai 30.000 dollar AS (sekitar Rp 410 juta) per satu prajurit. Jadi, untuk membiayai perangkat luar untuk 10 prajurit saja sudah butuh sekitar Rp 4,1 miliar!

Ini jelas terlalu mahal untuk ukuran perlengkapan standar prajurit TNI. Bahkan, untuk Angkatan Darat AS, biaya ini juga lumayan mahal. Sesudah membelanjakan sekitar 500 juta dollar AS selama satu dasawarsa, Angkatan Darat AS akhirnya dipaksa untuk mengurangi atau membatalkan banyak ide teknologi baru.

Di luar perlengkapan prajurit individual, Pentagon juga punya banyak ide besar lain. Misalnya, untuk Angkatan Udara AS, menciptakan rudal hipersonik yang mampu menyerang seluruh lokasi di dunia dalam waktu kurang dari satu jam. Prototip ini dinamai X-51.

Juga, senjata-senjata laser yang sudah cukup populer. Pentagon merencanakan senjata laser berkekuatan mega-watt, yang dipasang di hidung pesawat jumbo jet Boeing 747, dan mampu menghancurkan rudal balistik Korea Utara di langit. Angkatan Laut AS juga punya proyek senjata penghancur rudal yang akan dipasang di kapal perang, dan dinamai Free Electron Laser.

Prakarsa besar lain di masa depan adalah mengganti pesawat-pesawat tempur berawak dengan drone. Selama ini, drone yang ada sudah bisa menyerang tanpa pilot, namun ia masih dikendalikan oleh operator manusia dari jarak jauh. Di masa mendatang, ada rencana membuat drone yang beroperasi tanpa campur tangan manusia. Northrop Grumman, dalam proyek X-47B yang didanai Angkatan Laut AS, kini sedang merancang pesawat tanpa awak yang bisa lepas landas dari dan mendarat di kapal induk.

Ini bukan bermaksud mengatakan bahwa militer di masa depan pasti akan dilengkapi dengan persenjataan tercanggih dan terhebat di dunia. Biaya pembuatan senjata telah melonjak tinggi. Pentagon mendapat tekanan berat dalam mendanai operasi militer di Irak, Afganistan, dan tempat-tempat lain, sehingga banyak ide-ide besar tentang persenjataan masa depan terbukti terlalu mahal untuk diwujudkan.

Sehingga ada ungkapan sinis dan canda lama tentang berbagai teknologi ambisius yang serba mahal tersebut. Prajurit berperangkat super, senjata laser, rudal balistik hipersonik, semua itu adalah senjata-senjata masa depan, dan akan tetap menjadi senjata “masa depan” alias tidak pernah diwujudkan. ***

Jakarta, Maret 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...