Langsung ke konten utama

Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, Imam Besar Masjid Al-Azhar yang Moderat

Oleh: Satrio Arismunandar

Umat Islam Indonesia beruntung menjadi tuan rumah bagi kunjungan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, ulama terkemuka dan Imam Besar Masjid Al-Azhar, Mesir. Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Imam Besar Masjid Al-Azhar ini di Istana Merdeka, 22 Februari 2016. Syekh Ath-Thayyeb terkenal dengan pandangan keagamaannya yang moderat dan konsisten dalam menyuarakan visi Islam yang damai.

Namun, siapakah sebenarnya ulama terkemuka asal Mesir ini? Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb lahir di Qina, 6 Januari 1946. Jika dirunut, silsilah nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW. Pada usia 70 tahun, ia menjadi Imam Besar Masjid Al-Azhar.

Ia menempati jabatan tertinggi Syaikh Besar Al-Azhar di atas Mufti di Daarul Ifta, sekaligus juga merupakan jabatan tertinggi di Institusi Al-Azhar yang berpusat di Kairo, Mesir. Ia menggantikan Fadhilatu Syaikh DR. Muhammad Sayyid Thanthawi yang wafat pada 2010. Al-Asy’ari adalah mazhab akidahnya, Maliki adalah mazhab fikihnya, dan Khalwati adalah tarekat Sufi tempatnya bernaung.

Jabatan yang diemban Syekh Ath-Thayyeb saat ini adalah al-Imam al-Akbar Syekh Al-Azhar (Grand Syaikh), pimpinan tertinggi institusi Al-Azhar, sejak 2010. Jabatan ini penetapannya berdasarkan keputusan Presiden (waktu itu Hosni Mubarak), dengan masa jabatan seumur hidup. Menurut aturan protokol, jabatan ini setara dengan perdana menteri.

Sejak 2014, Syekh Ath-Thayyeb juga dipercaya memimpin Majelis Hukama’ al-Muslimin, sebuah organisasi internasional independen yang menghimpun para tokoh ulama lintas negara, berhaluan moderat, dan bertujuan mengukuhkan perdamaian di dunia Islam.

Sebelum menjadi Grand Syekh al-Azhar, Ahmad Ath-Thayyeb pernah menjabat sebagai: Rektor Universitas Al Azhar (2003 – 2010), Mufti Negara (2002 – 2003), Anggota Lembaga Riset al-Azhar, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah, dan Anggota Dewan Tertinggi Tarekat Sufi. Beliau juag tercatat sebagai Dekan Fakultas Studi Islam di Aswan dan Fakultas Teologi Universitas Islam Internasional di Pakistan, serta mengajar di universitas-universitas di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab .

Syekh Ath-Thayyeb dikenal sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan ukhuwah (persatuan), dan tegas mengkritik Zionis. Di antara sikap dan pandangan keagamaannya adalah membela Khazanah Pemikiran Turats (Kitab Kuning). Syekh Ath-Thayyeb selalu menekankan misinya untuk melestarikan dan menyebarkan buku-buku turats (klasik).

Syekh Ath-Thayyeb juga dikenal mendukung Mazhab Asy’ari. Sebagai pribadi dan orang Azhar, Syekh Ath-Thayyeb selalu menganjurkan Mazhab Asy’ari dalam akidah, karena menurutnya, paling pas dalam memadukan antara akal dan wahyu. Selain itu, Mazhab Asy’ari juga paling hati-hati dalam mengkafirkan orang lain. Menurutnya, maraknya fenomena pengkafiran (takfiri) yang terjadi di kalangan tertentu umat Islam, selain karena penindasan penguasa, juga karena dihidupkannya kembali pemikiran-pemikiran khawarij, yang sebenarnya sudah hilang ditelan sejarah.

Syekh Ath-Thayyeb mengatakan, umat Islam yang berakidah Ahlussunah itu bersaudara dengan umat Islam dari golongan Syiah. “Sunni dan Syiah adalah saudara,” terang Syekh Ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam Machasin, terkait permasalahan Sunni dan Syiah. Waktu itu Syekh Ath-Thayyeb sedang berkunjung di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), 22 Februari 2016, seperti dikutip laman kemenag.go.id.

Menurut Syekh Ath-Thayyeb, Islam mempunyai definisi yang jelas. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, berpuasa, berzakat, dan beribadah haji bagi yang mampu. “Mereka yang melaksanakan lima hal pokok ini, maka dia Muslim. Kecuali mereka yang mendustakan,” tegasnya.

Syekh Ath-Thayyeb menilai, tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, banyak ajaran Syiah yang dekat dengan pemahaman Sunni. Perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam pandangan Syekh Thayyeb hanya pada masalah imamiah. “Syiah mengatakan imamiah bagian dari ushuluddin, kita mengatakan sebagai masalah furu’. Kalau kita membaca kitab-kitab Syiah yang lama, mereka secara umum menghormati para sahabat,” tambahnya lagi.

Menurut Syekh Ath-Thayyeb, perbedaan merupakan sunnatullah. Perbedaan dalam Islam bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi. Syekh Ath-Thayeb lalu mencontohkan tentang salat. Menurutnya, para Sahabat belajar salat dari Rasulullah SAW. Namun, faktanya ada beberapa perbedaan kaifiyat (tata cara) salat yang sampai kepada umat Muhammad. “Untuk yang syar’i (prinsip) tidak ada perbedaan. Tapi untuk yang furu’iyah (cabang-cabang keagamaan) terjadi perbedaan pendapat,” terangnya.

Perbedaan itu, lanjut Syekh, mulai dari mengangkat kedua tangan saat takbiratul ikhram. Ada pendapat yang hanya sampai depan dada, ada yang berpendapat sampai dua telinga. Demikian juga perbedaan dalam bacaan Al-Fatihah, Maliki tidak didahului basmalah, sementara Syafii harus.

Terkait hal ini, Syekh menghargai peran MUI yang dapat menghimpun banyak ulama dari beragam ormas dan pemikiran yang berbeda. Menurutnya, MUI menjadi modal besar bagi upaya menyatukan umat Islam dan memberikan penyadaran kepada umat Islam agar tidak mudah terprovokasi.

Syekh Ath-Thayyeb menegaskan bahwa perbedaan para ulama adalah rahmat. “Yasurruni an yakhtalifa ashhabu Rasulillah (perbedaan di antara sahabat Rasulullah menyenangkan buatku),” tutur Syekh Ath-Thayyeb mengutip pernyataan Malik bin Abdul Aziz.

Dalam keragaman pandangan dan pemahaman, Syekh mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak pada klaim kebenaran. “La taqul ana wahdy ash-shahih wa ghairii khatha’un (Janganlah kamu mengatakan hanya saya saja yang benar, lainnya salah),” tegas Syekh Ath-Thayyeb sembari menyampaikan harapannya agar MUI dapat menjelaskan cara pandang dalam menyikapi perbedaan ini kepada umat Islam di Indonesia.

Selama berkunjung di Indonesia, Syekh Ath-Thayyeb bersama Majelis Hukama Al Muslimin bertemu Presiden Jokowi. Dalam pertemuan itu, Presiden secara khusus mengharapkan agar Syekh dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat muslim Indonesia. Syekh juga diharapkan seterusnya dapat membimbing mahasiswa Indonesia di Mesir di bawah Al-Azhar, untuk kembali menyebarkan paham Islam yang moderat, jauh dari ekstremisme.

Presiden juga mengucapkan terima kasih atas beasiswa yang diberikan oleh Al-Azhar kepada mahasiswa Indonesia, yang berjumlah sekitar 3.500 orang. Sedangkan, utusan dai dari Al-Azhar pada tahun 2016 ini berjumlah 32 dai, yang memberikan pencerahan kepada masyarakat muslim di Indonesia.

Dalam lawatan di Indonesia, Syekh Ath-Thayyeb juga memberikan kuliah umum dan bertemu dengan para alumni Al Azhar di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia meninjau Pusat Studi Al-Quran pimpinan Prof. Dr. Quraish Shihab, yang juga menjadi perwakilan Indonesia di Majelis Hukama Al-Muslimin.

Selain itu, Syekh Ath-Thayyeb menerima penganugerahan gelar doktor kehormatan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia juga mengadakan pertemuan dengan keluarga besar pondok modern Darussalam Gontor di Ponorogo, sekaligus menghadiri pembukaan perayaan 90 tahun usia pondok tersebut.

Jakarta, Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...