Langsung ke konten utama

Muhammad Iqbal, Penyair dan Inspirator Berdirinya Pakistan

Oleh: Satrio Arismunandar

Salah satu tokoh besar yang dipandang menjadi inspirator berdirinya negara Pakistan adalah Muhammad Iqbal. Dikenal juga sebagai Allama Iqbal, ia adalah seorang penyair, politisi, dan filsuf besar dari India era penjajahan Inggris (British India) pada abad ke-20. Dari semua atribut itu, Iqbal lebih populer dan dipuji secara meluas sebagai penyair besar.

Iqbal dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sastra Urdu, dengan karya sastra yang ditulis baik dalam bahasa Urdu maupun Persia. Iqbal dikagumi sebagai penyair klasik yang menonjol oleh sarjana-sarjana sastra dari Pakistan, India, maupun secara internasional. Selain dikenal sebagai penyair yang menonjol, ia juga dianggap sebagai "pemikir filosofis Muslim pada masa modern."

Iqbal lahir di Sialkot, Provinsi Punjab, India, pada 9 November 1877, dari pasangan Sheikh Noor Muhammad dan Imam Bibi. Ayahnya bukanlah orang terpelajar. Ayah Iqbal bekerja sebagai tukang jahit, sedangkan ibunya menjadi ibu rumah tangga biasa.

Pada usia 4 tahun Iqbal mulai berkenalan dengan pelajaran agama dan dikirim ke masjid untuk belajar Al-Quran. Iqbal belajar bahasa Arab di Scotch Mission College di Sialkot, dan mengejar pendidikan lebih jauh di Fakultas Seni, Murray College. Pada 1895, Iqbal masuk ke Kolese Pemerintah di Lahore untuk mengejar kesarjanaan, dan mempelajari filsafat, sastra Inggris, dan bahasa Arab. Ia memperoleh gelar Master of Arts dari kolese yang sama dan memperoleh posisi nomor satu di Universitas Punjab, Lahore.

Iqbal meraih Master of Arts dan memulai karir akademisnya di Oriental College, namun dalam periode singkat ia menjadi pengajar filsafat di Kolese Pemerintah, Lahore. Iqbal memilih untuk menempuh studi lebih tinggi di Barat dan pergi ke Inggris dengan beasiswa dari Trinity College, Cambridge. Ia memperoleh Bachelor of Arts dari lembaga pendidikan yang sama pada 1906. Ketika mempelajari hukum dan filsafat di Inggris, Iqbal menjadi anggota All India Muslim League cabang London.

Pada 1907, ia berangkat ke Jerman untuk mengikuti program doktor dan memperoleh PhD dari Ludwig Maximilian University, Munich. Selama proses tersebut, disertasi doktornya “Perkembangan Metafisika di Persia” diterbitkan. Iqbal adalah sosok yang sangat terpelajar, yang menuntut ilmu di India, Inggris, dan Jerman, di mana ia mempelajari dan lalu memperkenalkan filsafat Goethe, Heine, dan Nietzsche.

Sesudah menyelesaikan studi, Iqbal lalu kembali ke India dan menjadi asisten profesor di Kolese Pemerintah, Lahore. Namun pekerjaan itu tidak memberikan penghasilan yang cukup. Itulah yang mendorong dia untuk berpraktik sebagai pengacara, mulai dari 1908 sampai 1934. Ia kemudian juga terlibat dalam politik dan dikenal karena keahlian hukum, ideologi dan landasan politik, serta teori-teori filsafatnya. Namun sosok Iqbal lebih banyak dikenang dan disukai sebagai penyair besar dan cendekiawan.

Pada 1919, ia menjadi Sekretaris Jenderal Anjuman-e-Himayat-e-Islam, sebuah organisasi cendekiawan dan politik Islam yang berbasis di Lahore, Pakistan. Iqbal telah menjadi anggota aktif selama beberapa tahun sebelum ia meraih posisi Sekjen tersebut. Pada 1927, Iqbal terpilih menjadi anggota Majelis Legislatif Punjab dan kemudian terpilih untuk memimpin sidang Liga Muslim.

Dalam salah satu ceramahnya yang paling terkenal, Iqbal mendorong pembentukan negara Muslim di Barat Daya India. Ceramah ini diutarakan pada ceramah kepresidenannya di Liga Muslim pada sesi Desember 1930. Saat itu ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Mohammad Ali Jinnah, tokoh yang dipandang sebagai bapak pendiri negara Pakistan.

Dalam posisi-posisi itulah, Iqbal untuk pertama kalinya memperkenalkan gagasan tentang “Pakistan.” Iqbal diyakini sebagai inspirator di belakang “Gerakan Pakistan” yang bersejarah, di mana ia adalah salah satu dari sedikit tokohnya, yang pertama memunculkan gagasan Pakistan, sebagai negara terpisah dari India untuk kaum Muslim.

Di luar dunia politik, Iqbal dipandang memberi sumbangan besar pada kesusastraan. Buku puisi pertamanya, Asrar-e-Khudi, juga buku puisi lainnya termasuk Rumuz-i-Bekhudi, Payam-i-Mashriq dan Zabur-i-Ajam, dicetak dalam bahasa Persia pada 1915. Di antara karya-karyanya, Bang-i-Dara, Bal-i-Jibril, Zarb-i Kalim dan bagian dari Armughan-e-Hijaz, merupakan karya Urdu-nya yang paling dikenal.

Beberapa buku karya Iqbal adalah: Payam-i-Mashriq (1923), The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930), Javid Nama (1932), Pas Cheh Bayed Kard ai Aqwam-e-Sharq (1936), Bal-i-Jibril (1935), Zarb-i-Kalim (1936), dan lain-lain.

Bersama puisi Urdu dan Persia-nya, berbagai kuliah dan surat dalam bahasa Urdu dan Bahasa Inggris-nya telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada perselisihan budaya, sosial, religious, dan politik selama bertahun-tahun. Pada 1922, ia diberi gelar bangsawan oleh Raja George V, yang memberinya titel "Sir."

Iqbal dikenal sebagai Shair-e-Mushriq yang berarti "Penyair dari Timur". Ia juga disebut sebagai Muffakir-e-Pakistan (penginspirasi awal Pakistan) dan Hakeem-ul-Ummat (tokoh bijak dari kalangan umat). Di Iran dan Afganistan ia terkenal sebagai Iqbāl-e Lāhorī (Iqbal dari Lahore), dan sangat dihargai atas karya-karyanya yang berbahasa Persia. Pemerintah Pakistan menghargainya sebagai "penyair nasional," hingga hari ulang tahunnya menjadi hari libur nasional di Pakistan.

Karena kondisi kesehatannya yang merosot, Iqbal berhenti berpraktik sepenuhnya sebagai pengacara pada 1934, dan diberi penghargaan dengan pensiun oleh Nawab dari Bhopal. Iqbal kemudian mendedikasikan hidupnya untuk peningkatan spiritualitas pribadi dan berkontribusi pada kesusastraan Persia dan Urdu.

Dalam kehidupannya, Iqbal pernah menikah tiga kali. Pernikahan pertama (1895) adalah dengan Karim Bibi, dari siapa ia memperoleh dua anak: Miraj Begum dan Aftab Iqbal. Pernikahan kedua Iqbal adalah dengan Sardar Begum, dan yang ketiga dengan Mukhtar Begum.

Iqbal meninggal di Lahore, pada 21 April 1938, sesudah menderita berbagai penyakit selama bertahun-tahun. Serangan berbagai penyakit itu diawali dengan sakit tenggorokan yang misterius, yang ia idap setelah perjalanan ke Spanyol dan Afganistan. Usianya saat meninggal adalah 60 tahun. Iqbal dimakamkan di Hazuri Bagh, Pakistan. ***

Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasman Ma’ani: Implementasi Nawacita Lewat Mitigasi di Daerah Rawan Bencana

Jakarta, aktual.com – Tujuan implementasi Nawacita ke-3 melalui Kemendesa antara lain adalah memberikan penanganan terhadap daerah rawan bencana melalui mitigasi dan rehabilitasi, serta penanganan daerah pasca konflik melalui rehabilitasi sosial dan ekonomi. Hal itu dinyatakan Drs. Hasman Ma’ani, M.Si., Direktur Penanganan Daerah Rawan Bencana kepada wartawan, di kantornya di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), di Jakarta, Senin (9/5). Hasman diwawancarai dalam kaitan penerapan Nawacita dalam masalah daerah rawan bencana di Indonesia. Ditambahkan oleh Hasman, tujuan lain adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia, serta penanggulangan kemiskinan, melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. “Lalu mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal antara desa dan kota, melalui pembangunan kawasan perdesaan,” tutur Hasman. Wujud implementasi berikutnya, kata Hasma...

Iko Uwais, Aktor Laga yang Mendunia Lewat Silat

Oleh: Satrio Arismunandar Bagi penggemar film laga, nama Iko Uwais sudah tak asing lagi. Berbekal keahlian pencak silatnya, aktor sekaligus koreografer atau penata laku adegan laga ini bukan bukan cuma tenar di skala nasional, tetapi sudah mendunia. Ini antara lain berkat kesuksesan film “Merantau” dan “The Raid” yang dibintanginya. Uwais Qorny, atau lebih dikenal sebagai Iko Uwais, lahir di Jakarta, 12 Februari 1983. Pada usia 33 tahun, bintangnya sudah melejit sebagai aktor, koreografer film, dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman ketika memerankan Yuda, seorang perantauan Minangkabau dalam film “Merantau” (2009). Dibesarkan di lingkungan Betawi, sejak berusia 10 tahun Iko sudah belajar seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. Ia belajar di perguruan asuhan pamannya, Tiga Berantai, yang beraliran silat Betawi. Pada 2003, Iko meraih posisi ketiga pada turnamen pencak silat tingkat DKI Jakarta. Pada 2005, ia menjadi pesilat terbaik dalam ka...

Program Reklamasi Berkelanjutan di Bekas Pertambangan Timah Bangka

Oleh: Satrio Arismunandar PT Refined Bangka Tin (RBT) pada 15 Agustus 2017 meluncurkan Program Reklamasi Berkelanjutan “Green for Good”. Ini adalah program konservasi lahan bekas penambangan timah, untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Demikian laporan wartawan indonesiamandiri.id dari Bankza bdelitung. Program ini melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM, serta organisasi nasional dan International. Program ini juga bertujuan memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education. Eco-education mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan, semua aktiv...